Dari Ibnu Mas'ud diriwayatkan bahwa ia pernah menceritakan ketika sedang duduk-duduk, "Sesungguhnya kamu sekalian berada ditengah perjalanan siang dan malam, di tengah lingkaran ajal yang terbatas, di tengah amal perbuatan yang selalu terpantau, sementara kematian datang dengan tiba-tiba. Barang siapa menanam kebajikan, niscaya ia akan menuai kebahagiaan, barang siapa menanam kejahatan niscaya ia akan menuai penyesalan. Setiap orang yang bercocok tanam, akan menuai yang setimpal dengan yang ditanamnya. Orang yang lambat, tidak akan kedahuluan orang lain dalam mengambil bagiannya. Demikian juga orang yang bernafsu, tidak akan memperoleh sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya. Siapa saja yang mendapat kebaikan, Allahlah yang memberikan kebaikan itu kepadanya. Siapa saja yang selamat dari kecelakaan, Allahlah yang memelihara dirinya dari kecelakaan tersebut. Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang terhormat dan para ahli Fikih adalah para pembimbing umat. Duduk-duduk (belajar) dengan mereka adalah keutamaan."
Tatkala sakaratul maut menjemput Abu Hurairah, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" beliau menjawab, "Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, bisa ke surga, bisa juga ke neraka".
Atha' al-Kharasani berkata,"aku tidak mewasiatkan kepada kamu sekalian untuk urusan dunia. Untuk urusan itu, kamu sekalian telah banyak mendapatkan wejangan, dan kalian sendiri bernafsu untuk mendapatkannya. Yang aku wasiatkan kepada kalian adalah urusan akhirat kalian. Ambillah bekal dari dunia yang fana ini untuk kehidupan akhirat yang abadi. Jadikanlah dunia ini seperti sesuatu yang telah kamu tinggalkan dan jadikanlah kematian itu seperti sesuatu yang telah kamu rasakan dan demi Allah, kamu memang akan merasakannya. Jadikanlah akhirat seperti tempat yang telah kamu singgahi dan Demi Allah, kamu memang akan singgah disana. Ia adalah kampung halaman setiap manusia dan tak seorangpun yang keluar berpergian tanpa mempersiapkan bekal. Orang yang mempersiapkan bekal yang berguna buat dirinya, ia akan bahagia. Sedangkan orang yang keluar berpergian tanpa mempersiapkan bekal, ia akan menyesal. Kalau ia kepanasan, ia tak akan mendapatkan tempat berteduh. Kalau ia kehausan, tak akan mendapat air pelepas dahaga. Sesungguhnya perjalanan dunia ini pasti berakhir. Orang yang paling kuat adalah yang selalu bersiap-siap untuk perjalanan yang tidak ada akhirnya".
Adh-Dhahiq bin Mujahim apabila datang sore hari beliau menangis. Ada orang yang bertanya,"Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab,"Aku tidak tahu, amalanku yang mana yang naik ke langit (diterima Allah) pada hari ini."
Dari Qasim bin Muhammad menceritakan, "kami pernah berpergian bersama Ibnul Mubarak. Seringkali terlintas dalam benakku, Dengan apa gerangan lelaki ini diutamakan atas diri kami, sehingga ia demikian terkenal di khalayak ramai? Kalau dia shalat, kami juga shalat. Kalau dia shaum kami juga shaum. Kalau dia berjihad, kami juga berjihad. Kalau dia berhaji, kami juga berhaji." Al-Qasim melanjutkan, "Dalam sebagian perjalan kami, ketika kami sampai dinegeri syam pada suatu malam kami makan malam disebuah rumah, tiba-tiba lampu padam. Maka salah seorang diantara kami segera mengambil lampu (atau diriwayatkan dia keluar mencari sesuatu untuk menyalakan lampu). Tiba-tiba kulihat wajah dan jenggot Ibnul Mubarak sudah basah oleh air mata." Aku berkata dalam diriku sendiri, "Dengan rasa takut inilah lelaki ini diutamakan atas diri kami. Mungkin ketika lampu padam, keadaan menjadi gelap, ia teringat dengan Hari Kiamat."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar