Minggu, 24 Oktober 2010

Menyembunyikan Sedekah

Syaikh Muhammad Ali Quthb bercerita,...
"Saya telah mengajar di berbagai tingkatan selama kurang lebih empat puluh tahun. Keinginan saya dalam mendidik dan mengajar adalah menjadikan fokus, apapun materi pelajaran itu, tentang keimanan dengan segala sifat kesuciannya...!Sehingga makna-makna moral tertinggi dapat mengakar dalam jiwa anak-anak.
Suatu hari terjadi peristiwa pada saat saya memberi pelajaran agama tentang sedekah dan pengaruhnya dalam masyarakat dari solidaritas, rasa cinta dan saling silaturahmi.
Seorang murid mengangkat tangannya meminta izin. Saya mengira dia ingin menanyakan sesuatu, tetapi dia izin untuk menceritakan suatu cerita yang erat hubungannya dengan tema kita. Diapun bercerita kepadaku dan teman-temanya tentang kisah berikut:
"Setiap hari Jum'at setelah kami pulang dari mesjid, biasanya ibuku telah menyediakan makan siang, kebiasaan bapakku adalah dia selalu keluar rumah dengan membawa dua bungkus plastik yang isinya makanan, roti dan buah-buahan.
Dia pergi dari rumah sekitar setengah jam, kemudian kembali dengan wajah yang berseri dan selalu mengulang-ulang kata, "Alhamdulillah...Alhamdulillah."
Aku berusaha lebih dari sekali untuk mengetahui kepada siapa bapakku pergi? dan Kemana? Dia selalu menjawab,"Apakah kamu ingin aku kehilangan pahala?!"
Bapakku melihatku dengan wajah cemberut seraya berkata,"Janganlah kamu marah dengan jawabanku. aku hanya ingin melaksanakan wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,"Sedekah dengan sembunyi-sembunyi akan memadamkan kemarahan Allah seperti air memadamkan api..." (HR. Bukhari)
Murid tadipun melanjutkan ceritanya dan kita semua terdiam mendengarkannya. Pada suatu malam Jum'at, bapakku merasa sakit dan panas badannya naik, maka kamipun memanggil dokter. Dia disuruh untuk tetap beristirahat diatas kasur dan diberikan obat-obatan agar cepat sembuh.
Akupun shalat Jum'at sendirian. Sepulang dari masjid, bapakku memanggilku dan berkata: "Dengarkanlah wahai anakku, aku sangat percaya kepadamu. Pada hari ini aku akan ceritakan tentang rahasia yang aku harapkan agar kamu bisa selalu menjaganya dan merahasiakannya, berjanjilah kepadaku." Akupun menjawab, "Insya Allah."
Dia bertanya,"Tahukah kamu toko Fulan yang berada di ujung jalan?' Aku menjawab, "ya" kemudian dia berkata,"Masuklah kamu kebelokan setelahnya, berjalan dijalanan berdebu (tanpa aspal) yang sempit, sampai kamu temukan sebuah toko "munjid", lalu belok lah ke kiri dan masuklah kedalam gang. Diujung gang itu kamu akan menemukan sebuah rumah yang tidak ada pintunya,yang ditutup dengan sehelai kain yang sudah robek. Panggillah "Ummu Aiman", kemudian berilah dia satu bungkus pertama....!
"Disamping rumah yang jelek ini, kamu akan temukan sebuah gubuk dari kayu dan seng. Ketuklah pintunya dulu lalu doronglah pelan-pelan dengan tanganmu. Kamu akan menemukan seorang tua yang lemah dan penglihatannya sudah tak jelas. Dia telah berusia tujuh puluh tahunan dan bernama paman Syakir, kemudian berilah dia bungkusan yang kedua, lalu kamu boleh pulang dengan tenang."
Akau jawab,"ya", wahai bapakku, perintahmu akan aku turuti." Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa aku sangat ingin tahu rahasia itu. Sekarang aku menjadi bertambah semangat dan aku bersungguh-sungguh mengharapkan pahala...!
Akupun sampai kerumah "Ummu Aiman" kemudian aku memanggilnya dari balik tirai, dia pun keluar. Ketika melihatku membawa bungkusan dia bertanya,"Kamu siapanya orang yang selalu membawa bungkusan itu untukku...?" Aku menjawab,"Dia adalah bapakku."
Aku tidak menambahkan satu kata pun, sesuai dengan wasiat bapakku untukku, yaitu jangan sampai perempuan "Ummu Aiman" itu tahu siapa dirinya, kecuali hanya tahu bahwa dia yang berbuat kebaikan...!
Ummu Aiman menyuruhku berhenti sebentar dan bertanya kepadaku tentang sebab ketidak hadiran bapakku, dan akupun membertahukannya. Mulut perempuan itu tidak berhenti mendo,akan agar bapakku cepat sembuh...!
Setelah itu aku menjadi tahu bahwa dia adalah seorang janda yang tidak mempunyai sanak keluarga.
Kemudian aku berpindah ke gubuk "Paman Syakir". Aku mengetuk pintunya dan kudorong pelan-pelan, sehingga sedikit mengeluarkan suara. Didalam gubuk itu sangatlah gelap, kemudian aku melihat gundukan kayu di tanah dan suara yang lemah, seakan suara itu keluar dari dasar sumur yang dalam dan bertanya, "Siapa yang masuk?" Akupun menjawab, "aku membawa bungkusan wahai paman Syakir."
Dia berkata,"Suara ini seorang anak muda dan biasanya yang membawa bungkusan itu adalah seorang lelaki dewasa, siapakah kamu? aku beritahu dia tentang kabar bapakku, kemudian dia berkata,"Semoga Allah menyembuhkannya dan semoga Allah memberkahi kamu, wahai anakku...!.
Aku meletakkan bungkusan itu dan pergi...!. Kembali ke rumah dan masuk sendirian menemui bapakku. Aku memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman..! Aku telah belajar darinya pelajaran yang sangat agung...! Aku mengharap semoga Allah memberiku pahala atasnya dan memberiku taufik-Nya kepadaku untuk selalu mengerjakannya."
Murid itupun duduk...
Saya cukupkan pelajaran hari itu dengan apa yang telah ia ceritakan dan saya tidak mengomentarinya. Saya melihat mayoritas dari murid-murid saya mengeringkan air mata mereka dengan sapu tangan!!!
Saya bertanya-tanya kepada jiwa ini dan terus bertanya-tanya,"apakah kita sudah mencapai derajat seperti ini?!"...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar