Rabu, 20 April 2016
Minggu, 24 Oktober 2010
Menyembunyikan Sedekah
Syaikh Muhammad Ali Quthb bercerita,...
"Saya telah mengajar di berbagai tingkatan selama kurang lebih empat puluh tahun. Keinginan saya dalam mendidik dan mengajar adalah menjadikan fokus, apapun materi pelajaran itu, tentang keimanan dengan segala sifat kesuciannya...!Sehingga makna-makna moral tertinggi dapat mengakar dalam jiwa anak-anak.
Suatu hari terjadi peristiwa pada saat saya memberi pelajaran agama tentang sedekah dan pengaruhnya dalam masyarakat dari solidaritas, rasa cinta dan saling silaturahmi.
Seorang murid mengangkat tangannya meminta izin. Saya mengira dia ingin menanyakan sesuatu, tetapi dia izin untuk menceritakan suatu cerita yang erat hubungannya dengan tema kita. Diapun bercerita kepadaku dan teman-temanya tentang kisah berikut:
"Setiap hari Jum'at setelah kami pulang dari mesjid, biasanya ibuku telah menyediakan makan siang, kebiasaan bapakku adalah dia selalu keluar rumah dengan membawa dua bungkus plastik yang isinya makanan, roti dan buah-buahan.
Dia pergi dari rumah sekitar setengah jam, kemudian kembali dengan wajah yang berseri dan selalu mengulang-ulang kata, "Alhamdulillah...Alhamdulillah."
Aku berusaha lebih dari sekali untuk mengetahui kepada siapa bapakku pergi? dan Kemana? Dia selalu menjawab,"Apakah kamu ingin aku kehilangan pahala?!"
Bapakku melihatku dengan wajah cemberut seraya berkata,"Janganlah kamu marah dengan jawabanku. aku hanya ingin melaksanakan wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,"Sedekah dengan sembunyi-sembunyi akan memadamkan kemarahan Allah seperti air memadamkan api..." (HR. Bukhari)
Murid tadipun melanjutkan ceritanya dan kita semua terdiam mendengarkannya. Pada suatu malam Jum'at, bapakku merasa sakit dan panas badannya naik, maka kamipun memanggil dokter. Dia disuruh untuk tetap beristirahat diatas kasur dan diberikan obat-obatan agar cepat sembuh.
Akupun shalat Jum'at sendirian. Sepulang dari masjid, bapakku memanggilku dan berkata: "Dengarkanlah wahai anakku, aku sangat percaya kepadamu. Pada hari ini aku akan ceritakan tentang rahasia yang aku harapkan agar kamu bisa selalu menjaganya dan merahasiakannya, berjanjilah kepadaku." Akupun menjawab, "Insya Allah."
Dia bertanya,"Tahukah kamu toko Fulan yang berada di ujung jalan?' Aku menjawab, "ya" kemudian dia berkata,"Masuklah kamu kebelokan setelahnya, berjalan dijalanan berdebu (tanpa aspal) yang sempit, sampai kamu temukan sebuah toko "munjid", lalu belok lah ke kiri dan masuklah kedalam gang. Diujung gang itu kamu akan menemukan sebuah rumah yang tidak ada pintunya,yang ditutup dengan sehelai kain yang sudah robek. Panggillah "Ummu Aiman", kemudian berilah dia satu bungkus pertama....!
"Disamping rumah yang jelek ini, kamu akan temukan sebuah gubuk dari kayu dan seng. Ketuklah pintunya dulu lalu doronglah pelan-pelan dengan tanganmu. Kamu akan menemukan seorang tua yang lemah dan penglihatannya sudah tak jelas. Dia telah berusia tujuh puluh tahunan dan bernama paman Syakir, kemudian berilah dia bungkusan yang kedua, lalu kamu boleh pulang dengan tenang."
Akau jawab,"ya", wahai bapakku, perintahmu akan aku turuti." Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa aku sangat ingin tahu rahasia itu. Sekarang aku menjadi bertambah semangat dan aku bersungguh-sungguh mengharapkan pahala...!
Akupun sampai kerumah "Ummu Aiman" kemudian aku memanggilnya dari balik tirai, dia pun keluar. Ketika melihatku membawa bungkusan dia bertanya,"Kamu siapanya orang yang selalu membawa bungkusan itu untukku...?" Aku menjawab,"Dia adalah bapakku."
Aku tidak menambahkan satu kata pun, sesuai dengan wasiat bapakku untukku, yaitu jangan sampai perempuan "Ummu Aiman" itu tahu siapa dirinya, kecuali hanya tahu bahwa dia yang berbuat kebaikan...!
Ummu Aiman menyuruhku berhenti sebentar dan bertanya kepadaku tentang sebab ketidak hadiran bapakku, dan akupun membertahukannya. Mulut perempuan itu tidak berhenti mendo,akan agar bapakku cepat sembuh...!
Setelah itu aku menjadi tahu bahwa dia adalah seorang janda yang tidak mempunyai sanak keluarga.
Kemudian aku berpindah ke gubuk "Paman Syakir". Aku mengetuk pintunya dan kudorong pelan-pelan, sehingga sedikit mengeluarkan suara. Didalam gubuk itu sangatlah gelap, kemudian aku melihat gundukan kayu di tanah dan suara yang lemah, seakan suara itu keluar dari dasar sumur yang dalam dan bertanya, "Siapa yang masuk?" Akupun menjawab, "aku membawa bungkusan wahai paman Syakir."
Dia berkata,"Suara ini seorang anak muda dan biasanya yang membawa bungkusan itu adalah seorang lelaki dewasa, siapakah kamu? aku beritahu dia tentang kabar bapakku, kemudian dia berkata,"Semoga Allah menyembuhkannya dan semoga Allah memberkahi kamu, wahai anakku...!.
Aku meletakkan bungkusan itu dan pergi...!. Kembali ke rumah dan masuk sendirian menemui bapakku. Aku memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman..! Aku telah belajar darinya pelajaran yang sangat agung...! Aku mengharap semoga Allah memberiku pahala atasnya dan memberiku taufik-Nya kepadaku untuk selalu mengerjakannya."
Murid itupun duduk...
Saya cukupkan pelajaran hari itu dengan apa yang telah ia ceritakan dan saya tidak mengomentarinya. Saya melihat mayoritas dari murid-murid saya mengeringkan air mata mereka dengan sapu tangan!!!
Saya bertanya-tanya kepada jiwa ini dan terus bertanya-tanya,"apakah kita sudah mencapai derajat seperti ini?!"...
"Saya telah mengajar di berbagai tingkatan selama kurang lebih empat puluh tahun. Keinginan saya dalam mendidik dan mengajar adalah menjadikan fokus, apapun materi pelajaran itu, tentang keimanan dengan segala sifat kesuciannya...!Sehingga makna-makna moral tertinggi dapat mengakar dalam jiwa anak-anak.
Suatu hari terjadi peristiwa pada saat saya memberi pelajaran agama tentang sedekah dan pengaruhnya dalam masyarakat dari solidaritas, rasa cinta dan saling silaturahmi.
Seorang murid mengangkat tangannya meminta izin. Saya mengira dia ingin menanyakan sesuatu, tetapi dia izin untuk menceritakan suatu cerita yang erat hubungannya dengan tema kita. Diapun bercerita kepadaku dan teman-temanya tentang kisah berikut:
"Setiap hari Jum'at setelah kami pulang dari mesjid, biasanya ibuku telah menyediakan makan siang, kebiasaan bapakku adalah dia selalu keluar rumah dengan membawa dua bungkus plastik yang isinya makanan, roti dan buah-buahan.
Dia pergi dari rumah sekitar setengah jam, kemudian kembali dengan wajah yang berseri dan selalu mengulang-ulang kata, "Alhamdulillah...Alhamdulillah."
Aku berusaha lebih dari sekali untuk mengetahui kepada siapa bapakku pergi? dan Kemana? Dia selalu menjawab,"Apakah kamu ingin aku kehilangan pahala?!"
Bapakku melihatku dengan wajah cemberut seraya berkata,"Janganlah kamu marah dengan jawabanku. aku hanya ingin melaksanakan wasiat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,"Sedekah dengan sembunyi-sembunyi akan memadamkan kemarahan Allah seperti air memadamkan api..." (HR. Bukhari)
Murid tadipun melanjutkan ceritanya dan kita semua terdiam mendengarkannya. Pada suatu malam Jum'at, bapakku merasa sakit dan panas badannya naik, maka kamipun memanggil dokter. Dia disuruh untuk tetap beristirahat diatas kasur dan diberikan obat-obatan agar cepat sembuh.
Akupun shalat Jum'at sendirian. Sepulang dari masjid, bapakku memanggilku dan berkata: "Dengarkanlah wahai anakku, aku sangat percaya kepadamu. Pada hari ini aku akan ceritakan tentang rahasia yang aku harapkan agar kamu bisa selalu menjaganya dan merahasiakannya, berjanjilah kepadaku." Akupun menjawab, "Insya Allah."
Dia bertanya,"Tahukah kamu toko Fulan yang berada di ujung jalan?' Aku menjawab, "ya" kemudian dia berkata,"Masuklah kamu kebelokan setelahnya, berjalan dijalanan berdebu (tanpa aspal) yang sempit, sampai kamu temukan sebuah toko "munjid", lalu belok lah ke kiri dan masuklah kedalam gang. Diujung gang itu kamu akan menemukan sebuah rumah yang tidak ada pintunya,yang ditutup dengan sehelai kain yang sudah robek. Panggillah "Ummu Aiman", kemudian berilah dia satu bungkus pertama....!
"Disamping rumah yang jelek ini, kamu akan temukan sebuah gubuk dari kayu dan seng. Ketuklah pintunya dulu lalu doronglah pelan-pelan dengan tanganmu. Kamu akan menemukan seorang tua yang lemah dan penglihatannya sudah tak jelas. Dia telah berusia tujuh puluh tahunan dan bernama paman Syakir, kemudian berilah dia bungkusan yang kedua, lalu kamu boleh pulang dengan tenang."
Akau jawab,"ya", wahai bapakku, perintahmu akan aku turuti." Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa aku sangat ingin tahu rahasia itu. Sekarang aku menjadi bertambah semangat dan aku bersungguh-sungguh mengharapkan pahala...!
Akupun sampai kerumah "Ummu Aiman" kemudian aku memanggilnya dari balik tirai, dia pun keluar. Ketika melihatku membawa bungkusan dia bertanya,"Kamu siapanya orang yang selalu membawa bungkusan itu untukku...?" Aku menjawab,"Dia adalah bapakku."
Aku tidak menambahkan satu kata pun, sesuai dengan wasiat bapakku untukku, yaitu jangan sampai perempuan "Ummu Aiman" itu tahu siapa dirinya, kecuali hanya tahu bahwa dia yang berbuat kebaikan...!
Ummu Aiman menyuruhku berhenti sebentar dan bertanya kepadaku tentang sebab ketidak hadiran bapakku, dan akupun membertahukannya. Mulut perempuan itu tidak berhenti mendo,akan agar bapakku cepat sembuh...!
Setelah itu aku menjadi tahu bahwa dia adalah seorang janda yang tidak mempunyai sanak keluarga.
Kemudian aku berpindah ke gubuk "Paman Syakir". Aku mengetuk pintunya dan kudorong pelan-pelan, sehingga sedikit mengeluarkan suara. Didalam gubuk itu sangatlah gelap, kemudian aku melihat gundukan kayu di tanah dan suara yang lemah, seakan suara itu keluar dari dasar sumur yang dalam dan bertanya, "Siapa yang masuk?" Akupun menjawab, "aku membawa bungkusan wahai paman Syakir."
Dia berkata,"Suara ini seorang anak muda dan biasanya yang membawa bungkusan itu adalah seorang lelaki dewasa, siapakah kamu? aku beritahu dia tentang kabar bapakku, kemudian dia berkata,"Semoga Allah menyembuhkannya dan semoga Allah memberkahi kamu, wahai anakku...!.
Aku meletakkan bungkusan itu dan pergi...!. Kembali ke rumah dan masuk sendirian menemui bapakku. Aku memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman..! Aku telah belajar darinya pelajaran yang sangat agung...! Aku mengharap semoga Allah memberiku pahala atasnya dan memberiku taufik-Nya kepadaku untuk selalu mengerjakannya."
Murid itupun duduk...
Saya cukupkan pelajaran hari itu dengan apa yang telah ia ceritakan dan saya tidak mengomentarinya. Saya melihat mayoritas dari murid-murid saya mengeringkan air mata mereka dengan sapu tangan!!!
Saya bertanya-tanya kepada jiwa ini dan terus bertanya-tanya,"apakah kita sudah mencapai derajat seperti ini?!"...
Kamis, 21 Oktober 2010
Rasa Takut Kepada Allah SWT dan Berzikir
Dari Ibnu Mas'ud diriwayatkan bahwa ia pernah menceritakan ketika sedang duduk-duduk, "Sesungguhnya kamu sekalian berada ditengah perjalanan siang dan malam, di tengah lingkaran ajal yang terbatas, di tengah amal perbuatan yang selalu terpantau, sementara kematian datang dengan tiba-tiba. Barang siapa menanam kebajikan, niscaya ia akan menuai kebahagiaan, barang siapa menanam kejahatan niscaya ia akan menuai penyesalan. Setiap orang yang bercocok tanam, akan menuai yang setimpal dengan yang ditanamnya. Orang yang lambat, tidak akan kedahuluan orang lain dalam mengambil bagiannya. Demikian juga orang yang bernafsu, tidak akan memperoleh sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya. Siapa saja yang mendapat kebaikan, Allahlah yang memberikan kebaikan itu kepadanya. Siapa saja yang selamat dari kecelakaan, Allahlah yang memelihara dirinya dari kecelakaan tersebut. Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang terhormat dan para ahli Fikih adalah para pembimbing umat. Duduk-duduk (belajar) dengan mereka adalah keutamaan."
Tatkala sakaratul maut menjemput Abu Hurairah, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" beliau menjawab, "Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, bisa ke surga, bisa juga ke neraka".
Atha' al-Kharasani berkata,"aku tidak mewasiatkan kepada kamu sekalian untuk urusan dunia. Untuk urusan itu, kamu sekalian telah banyak mendapatkan wejangan, dan kalian sendiri bernafsu untuk mendapatkannya. Yang aku wasiatkan kepada kalian adalah urusan akhirat kalian. Ambillah bekal dari dunia yang fana ini untuk kehidupan akhirat yang abadi. Jadikanlah dunia ini seperti sesuatu yang telah kamu tinggalkan dan jadikanlah kematian itu seperti sesuatu yang telah kamu rasakan dan demi Allah, kamu memang akan merasakannya. Jadikanlah akhirat seperti tempat yang telah kamu singgahi dan Demi Allah, kamu memang akan singgah disana. Ia adalah kampung halaman setiap manusia dan tak seorangpun yang keluar berpergian tanpa mempersiapkan bekal. Orang yang mempersiapkan bekal yang berguna buat dirinya, ia akan bahagia. Sedangkan orang yang keluar berpergian tanpa mempersiapkan bekal, ia akan menyesal. Kalau ia kepanasan, ia tak akan mendapatkan tempat berteduh. Kalau ia kehausan, tak akan mendapat air pelepas dahaga. Sesungguhnya perjalanan dunia ini pasti berakhir. Orang yang paling kuat adalah yang selalu bersiap-siap untuk perjalanan yang tidak ada akhirnya".
Adh-Dhahiq bin Mujahim apabila datang sore hari beliau menangis. Ada orang yang bertanya,"Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab,"Aku tidak tahu, amalanku yang mana yang naik ke langit (diterima Allah) pada hari ini."
Dari Qasim bin Muhammad menceritakan, "kami pernah berpergian bersama Ibnul Mubarak. Seringkali terlintas dalam benakku, Dengan apa gerangan lelaki ini diutamakan atas diri kami, sehingga ia demikian terkenal di khalayak ramai? Kalau dia shalat, kami juga shalat. Kalau dia shaum kami juga shaum. Kalau dia berjihad, kami juga berjihad. Kalau dia berhaji, kami juga berhaji." Al-Qasim melanjutkan, "Dalam sebagian perjalan kami, ketika kami sampai dinegeri syam pada suatu malam kami makan malam disebuah rumah, tiba-tiba lampu padam. Maka salah seorang diantara kami segera mengambil lampu (atau diriwayatkan dia keluar mencari sesuatu untuk menyalakan lampu). Tiba-tiba kulihat wajah dan jenggot Ibnul Mubarak sudah basah oleh air mata." Aku berkata dalam diriku sendiri, "Dengan rasa takut inilah lelaki ini diutamakan atas diri kami. Mungkin ketika lampu padam, keadaan menjadi gelap, ia teringat dengan Hari Kiamat."
Tatkala sakaratul maut menjemput Abu Hurairah, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?" beliau menjawab, "Jauhnya perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya aral rintangan. Sementara tempat kembali, bisa ke surga, bisa juga ke neraka".
Atha' al-Kharasani berkata,"aku tidak mewasiatkan kepada kamu sekalian untuk urusan dunia. Untuk urusan itu, kamu sekalian telah banyak mendapatkan wejangan, dan kalian sendiri bernafsu untuk mendapatkannya. Yang aku wasiatkan kepada kalian adalah urusan akhirat kalian. Ambillah bekal dari dunia yang fana ini untuk kehidupan akhirat yang abadi. Jadikanlah dunia ini seperti sesuatu yang telah kamu tinggalkan dan jadikanlah kematian itu seperti sesuatu yang telah kamu rasakan dan demi Allah, kamu memang akan merasakannya. Jadikanlah akhirat seperti tempat yang telah kamu singgahi dan Demi Allah, kamu memang akan singgah disana. Ia adalah kampung halaman setiap manusia dan tak seorangpun yang keluar berpergian tanpa mempersiapkan bekal. Orang yang mempersiapkan bekal yang berguna buat dirinya, ia akan bahagia. Sedangkan orang yang keluar berpergian tanpa mempersiapkan bekal, ia akan menyesal. Kalau ia kepanasan, ia tak akan mendapatkan tempat berteduh. Kalau ia kehausan, tak akan mendapat air pelepas dahaga. Sesungguhnya perjalanan dunia ini pasti berakhir. Orang yang paling kuat adalah yang selalu bersiap-siap untuk perjalanan yang tidak ada akhirnya".
Adh-Dhahiq bin Mujahim apabila datang sore hari beliau menangis. Ada orang yang bertanya,"Apa yang membuatmu menangis?" Beliau menjawab,"Aku tidak tahu, amalanku yang mana yang naik ke langit (diterima Allah) pada hari ini."
Dari Qasim bin Muhammad menceritakan, "kami pernah berpergian bersama Ibnul Mubarak. Seringkali terlintas dalam benakku, Dengan apa gerangan lelaki ini diutamakan atas diri kami, sehingga ia demikian terkenal di khalayak ramai? Kalau dia shalat, kami juga shalat. Kalau dia shaum kami juga shaum. Kalau dia berjihad, kami juga berjihad. Kalau dia berhaji, kami juga berhaji." Al-Qasim melanjutkan, "Dalam sebagian perjalan kami, ketika kami sampai dinegeri syam pada suatu malam kami makan malam disebuah rumah, tiba-tiba lampu padam. Maka salah seorang diantara kami segera mengambil lampu (atau diriwayatkan dia keluar mencari sesuatu untuk menyalakan lampu). Tiba-tiba kulihat wajah dan jenggot Ibnul Mubarak sudah basah oleh air mata." Aku berkata dalam diriku sendiri, "Dengan rasa takut inilah lelaki ini diutamakan atas diri kami. Mungkin ketika lampu padam, keadaan menjadi gelap, ia teringat dengan Hari Kiamat."
Langganan:
Komentar (Atom)